Rabu, 23 Desember 2009

Hari Ibu

Kenapa tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu? Kenapa tidak tanggal 21 April saja?

Sebelum mengetahui jawaban dari pertanyaan di atas, terlebih dahulu saya ingin menceritakan sedikit tentang ibu saya.

Well, sebenarnya saya sendiri kurang mengenal ibu saya, sebagaimana ibu saya sendiri juga kurang mengenal saya secara keseluruhan sebagai anak laki-laki. Kami berdua memang jarang ngobrol. Beliau lebih dekat dengan kakak-kakak perempuan saya. Biasanya kalau tiap sore, mereka suka kumpul-kumpul di ruang tamu, sementara saya sendirian nongkrong di depan TV tanpa ada yang menemani.

Kalaupun ibu saya suatu ketika mengajak saya ngobrol, paling-paling yang beliau katakan hanyalah kalimat-kalimat basi seperti : "Sudah makan, belum?" "Rambut panjang, begunting gin," "Nasi ikam di dalam tetudung," dan kalimat sejenis yang tidak terlalu penting. Rasanya belum pernah saya diajak ibu saya untuk turut serta ngegosipin tetangga. Ya ealah, saya anak laki-laki satu-satunya, pendiam, dan kaga suka gosip. Bagaimana mungkin saya gabung dan ngobrol sama ibu dan kakak saya di ruang tamu?

Jadi tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang ibu saya.

Beliau lahir kalo ga salah pada tanggal 19 Januari 1944 di Kotabaru, Kalimantan Selatan, dengan nama Gusti Nortjahaja (baca : Gusti Norcahaya). Anak keberapa dari berapa bersaudara, saya sendiri juga ga tahu. Selama ini saudara ibu saya yang saya kenal hanya Acil Ida (Acil itu bahasa Banjar yg artinya Tante), yang kata ibu saya adalah adik paling bungsu. Yaaah, saya kurang tahu akan hal ini, harap maklum.

Dahulu ibu saya bekerja sebagai seorang guru di Madrasah Tsanawiyah Pangeran Antasari Martapura. Beliau mengajar Biologi dan Fisika. Kadang-kadang saya juga sedikit kecipratan ilmu beliau, sehingga saya biasanya paling pinter dalam dua pelajaran itu. Ngga pinter-pinter amat sih, tapi pokoknya pinter lah!

Sekarang beliau sudah sangat tua. Kondisi fisik sudah tidak prima seperti dulu lagi. Kalau dahulu beliau bisa mengendarai motor, sekarang jalan kaki aja sudah ngos-ngosan. Suka ngga tahan kalo berdiri terlalu lama, ngga tahan juga kalo duduk terlalu lama. Kalo sholat, biasanya sholat duduk doang Bahkan untuk berdiri saja membutuhkan waktu hampir lima menit. Kadang-kadang beliau pipis atau boker di celana kalo sudah kebelet dan ngga bisa nahan lebih lama lagi. Dan berhubung saya kurang akrab sama beliau, yaudin, emang gue pikirin? Biarlah kakak perempuan saya yg ngurusin ibu. Hahahahaha...

Kembali membahas pertanyaan di awal entry : Kenapa tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu? Kenapa tidak tanggal 21 April saja (yang merupakan Hari Kartini)? Tulisan berikut ini saya kopipaste langsung dari Wikipedia Indonesia. Selamat membaca.

Hari Ibu adalah hari peringatan/ perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anaknya, maupun lingkungan sosialnya.
Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebas-tugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya.

Di Indonesia hari ini dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional.

Sementara di Amerika, dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong dalam Hari Ibu atau Mother’s Day (dalam bahasa Inggris) dirayakan pada hari Minggu di pekan ke dua bulan Mei. Di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Perempuan Internasional atau International Women's Day (dalam bahasa Inggris) diperingati setiap bulan 8 Maret.

Hari Ibu di Indonesia

Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Konggres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung yang kemudian dikenal sebagai Mandalabhakti Wanitatama di Jalan Adisucipto. Dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain.

Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara; pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan; pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa; perdagangan anak-anak dan kaum perempuan; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita; pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan jender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Peringatan 25 tahun Hari Ibu pada tahun 1953 dirayakan meriah di tak kurang dari 85 kota Indonesia, mulai dari Meulaboh sampai Ternate.

Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama. Di Solo, misalnya, 25 tahun Hari Ibu dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Pada waktu itu panitia Hari Ibu Solo juga mengadakan rapat umum yang mengeluarkan resolusi meminta pemerintah melakukan pengendalian harga, khususnya bahan-bahan makanan pokok. Pada tahun 1950-an, peringatan Hari Ibu mengambil bentuk pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung.

Satu momen penting bagi para wanita adalah untuk pertama kalinya wanita menjadi menteri adalah Maria Ulfah di tahun 1950. Sebelum kemerdekaan Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Tahun 1973 Kowani menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW). ICW berkedudukan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa-bangsa.

Kini, Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji ke-ibu-an para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, pesta kejutan bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari.

Mother's day

Peringatan Mother’s Day di sebagian negara Eropa dan Timur Tengah, yang mendapat pengaruh dari kebiasaan memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronus, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani kuno. Maka, di negara-negara tersebut, peringatan Mother’s Day jatuh pada bulan Maret.

Di Amerika Serikat dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong, peringatan Mother’s Day jatuh pada hari Minggu kedua bulan Mei karena pada tanggal itu pada tahun 1870 aktivis sosial Julia Ward Howe mencanangkan pentingnya perempuan bersatu melawan perang saudara.

(Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_ibu)

Well, tadi saya sudah bilang bahwa saya bukanlah jenis anak yang dekat dan akrab dengan ibunya. Jadi secara pribadi saya menganggap bahwa tanggal 22 Desember tidak ada bedanya dengan hari yang lain, tidak ada yang spesial, tidak ada yang saya berikan atau saya lakukan untuk ibu saya, dan hari-hari saya di rumah tetap berjalan seperti biasa (makan, tidur, nonton TV, tidak ada yang ngajak ngobrol). Lagipula, tanggal 22 Desember juga bukan tanggal merah, jadi rasanya sama aja dengan hari biasa, kan?

Sampai jumpa.



0 komentar:

Posting Komentar