BUNGA BANGSA (Flower of The Nation)
Produksi 1982, 108 menit, PT sanggar Film (Tirto Yuwono)
Std: Sophan Sophiaan
Skn: Putu Wijaya, Sophan Sophiaan
Crt: Putu Wijaya, Sophan Sophiaan
Ftg: Adrian Susanto
Art: Hendro Tangkilisan
Edt: Muryadi
Msk: Billy J.Budiardjo
Sra: Suparman Sidik
Pem: Ajeng Triani Sardi, Retno Maruti, Adi Kurdi, Jean Marc Diestombe, Sarah David, Asrul Zulmi, Etty Sumiati, Yatti Sutjipto, Susy Bolle.
SINOPSIS:
Tantini (Ajeng Triani Sardi), gadis cilik anak keluarga Sanca Bachtiar (Adi Kurdi) dan Sito (Retno Maruti), telah hilang dan dinyatakan meninggal oleh orangtuanya. Sementara Tantini yang kini telah berubah nama dengan Tinneke hidup di negeri Belanda bersama keluarga Arnold van Dyk (Jean Marc Diestombe). Pangkalnya, bocah itu diculik oleh seseorang, yang tiga tahun kemudian penculiknya tertangkap oleh aparat keamanan. Tetapi bocah manis itu telah resmi diadopsi sebagai anak keluarga Arnold. Segala macam cara dan usaha dilakukan oleh keluarga Sanca, untuk dapat berkumpul kembali dengan anaknya. Rupanya kasih sayang terhadap Tinneke telah menyulitkan semua pihak. Keluarga Arnold telah begitu mengasihi Tinneke, seperti anak mereka sendir. Akhirnya, setelah melibatkan berbagai instansi dan perorangan, usaha Sanca kemudian berhasil menyentuh lubuk hati Arnold van Dyk. Tantini kembali ke pelukan ayah dan ibu kandungnya
Mungkin kalian semua heran kenapa saya malah membahas film ini?
Well, begini ceritanya.
Dulu waktu saya masih SD (kelas berapa saya lupa) saya sempat nonton film "bunga Bangsa" di salah satu stasiun TV swasta. Cuma saya nonton pas bagian pertengahan doang. Maksudnya, ngga nonton mulai awal, dan ngga nonton sampai akhir. Belakangan saya malah menyesal karena film itu ternyata film bagus, karena melibatkan dua negara : Belanda dan Indonesia. Apalagi plot ceritanya juga tentang kejahatan lintas negara gitu deh, seorang anak Indonesia diculik dan dijual ke orang Belanda.
Film-nya film sedih. Makanya saya ngga nonton sampai selesai. Maklum, masih SD, mana ada sih anak SD doyan nonton film sedih? Wuehehehehe
Ternyata saat itu adalah untuk pertama sekaligus terakhir kalinya saya nonton film "Bunga Bangsa." Sampai bertahun-tahun kemudian, sampai sekarang, saya tidak pernah lagi melihat film itu diputar di stasiun TV swasta kita saat ini. Sumpah, saya nyesel banget kenapa waktu itu saya ngga nonton sampai kelar.
Padahal saya yakin itu merupakan salah satu film Indonesia yang paling bagus di tahun 80-an. Karakter utamanya, gadis kecil bernama Tinneke itu juga jago Bahasa Belanda. Lokasi syutingnya sebagian juga ngambil tempat di Belanda. Sampai sekarang, salah satu adegan paling saya ingat adalah ketika Tinneke dipertemukan dengan ortu kandungnya. Gadis itu berteriak dalam bahasa Belanda (saya lupa bahasanya seperti gimana, tapi terjemahannya seperti ini :
KALIAN MEMANGGILKU TINI? BUKAN! BUKAN! NAMAKU TINNEKE!
Ada juga adegan saat Tinneke curhat sama ortunya yang orang Belanda. Katanya, dia sering diejek teman-temannya di sekolah gara-gara warna kulitnya beda sama anak-anak lain (Tinneke bersekolah di Belanda), mereka berkulit pucat, tapi Tinneke berkulit pucat menjurus sawo matang. Tinneke bicara ke ortunya itu jelas aja pake bahasa Belanda. Asli keren. Sayangnya, cuma itu yang bisa saya ingat.
Siapapun yang membaca entry ini, saya mohon bantuannya dengan sangat agar saya bisa menonton lagi film ini sampai selesai dari awal sampai akhir. Please...
4 komentar:
kenapa gak dilanjutin bloknya..
saya baru tahu judulnya setelah kamu share ini..
saya juga nonton sebagian mana masih sd suka cuek nontonnya sekarang pengen lagi nonton heee
Assalamu'alaikum hai saya juga nonton sampai selesai dan sempat nonton ulang. Entah kenapa Filmnya selalu terkenang, dan tetap masih penasaran kalau ada yg punya versi fullnya. Seandainya ada yang punya yah...
aku nonton waktu masih kelas 4 SD kayaknya sama bapak di bioskop, tahun 80an...
pernah beli VCDnya waktu itu dapat di glodok,, tapi sekarang entah kemana.. tinggal ANAK ANAK TAK BERIBU yang masih tersimpan..
Udah ada di KLIKFILM
Posting Komentar