Rencananya besok (maksudnya hari ini, karena saya mulai nge-post jam setengah satu dinihari) akan diadakan resepsi pernikahan kakak perempuan saya yang paling kecil. Itu artinya tinggal saya aja lagi anggota keluarga di rumah kami yang belum kawin. Huhuhu.... Tadi sebelum berangkat kerja, orang-orang masih sibuk mempersiapkan ini-itu, seperti memasang tenda, mendirikan spanduk, mengatur meja-meja, dll. Akad nikah sudah diadakan hari Rabu lalu, jadi sekarang tinggal resepsinya doang.
Berarti sekarang kakak ipar saya nambah lagi satu biji.
Mungkin sebagian orang berpendapat bahwa punya kakak ipar itu menyenangkan, tambah rame. Berhubung saya tidak menyukai karamaian, yaa.... saya tidak sependapat. Keberadaan kakak ipar itu tidak ubahnya seperti orang asing di kehidupan saya, mengingat saya sendiri jarang bergaul dengan orang-orang "baru". Jangankan dengan kakak ipar, dengan kakak kandung aja saya kurang akrab. Habis mereka cewek semua, lebih akrab sama ibu saya. Terus mereka juga rada sulit diajak becanda, suka dimasukin ke dalam hati gitu deh... Walaupun demikian, mereka tetap keluarga saya, dan saya tetap adik mereka. Jadi yaudah, jalanin aja. Huehehehehe....
Berhubung mau diadakan resepsi pernikahan, rumah jadi tambah rame. Hampir semua anggota keluarga berdatangan ke rumah kami untuk menginap, sekaligus bantu-bantu persiapan. Rata-rata mereka adalah keluarga yang tinggal di Banjarmasin, seperti Sophia, sepupu saya yang bongsor kaya ibunya. Tapi kakak ipar saya yang dari Kandangan juga datang, bawa keponakan saya yang lucu-lucu, si Noval dan adiknya Nurin. Saya ngga terlalu peduli. Tadi pan sudah saya bilang kalo saya tidak terlalu menyukai keramaian?
Jadinya saya cuma mengurung diri dalam kamar sepanjang hari, menghabiskan beberapa batang rokok. Sebenarnya semua anggota keluarga yang menginap di rumah itu selalu baik sama saya. Mereka selalu menegur saya tiap kali bertemu, walaupun saya tahu bahwa itu hanya sekedar basa-basi, setidaknya mereka menyadari bahwa saya ada. Ngga kaya ibu dan semua kakak perempuan saya yang biasanya menganggap saya kaga ada di rumah. Boro-boro, ditegur aja nggak pernah, apalagi di ajak ngobrol.
Kembali ke masalah kakak ipar (dari tadi omongan melantur ke mana2).
Saya tidak kenal dengan kakak ipar saya yang baru akan ngadain resepsi hari ini. Beliau seperti nongol begitu aja dari dalam tanah (emang arwah penasaran?), dan beliau seperti turun begitu saja dari langit (burung kaleee.....), tahu-tahu sudah jadi anggota keluarga kami. Mungkin karena saya orangnya memang ngga pedulian dan ngga mau tahu. Kami sekeluarga di rumah memang jarang ngobrol. Maksudnya, saya yang jarang ngobrol sama anggota keluarga di rumah. Mungkin juga mereka sudah membahas dan memperkenalkan si "kakak ipar" ini, tapi saya ngga dilibatkan dalam pembicaraan.
BRENGSEK!!
WOI, GW UDAH GEDE! GW UDAH BISA NYARI DUIT SENDIRI! TAPI KENAPA GW MASIH DIANGGAP ANAK KECIL YANG NGGA PANTAS NGOBROL BARENG ORANG-ORANG TUA KAYA LOE SEMUA, HEH??
Well, begitulah. Saya baru lihat calon kakak ipar saya untuk pertama kali pas akad nikah, di mana gue jadi wali nikahnya.
LUCU YA? WALI NIKAH KAGA KENAL SAMA SI CALON MEMPELAI PRIA.... HAHAHAHAHA!
INI YANG BEGO SIAPA SEBENARNYA? WALI NIKAHNYA ATAU ORANG YG MENYURUHNYA JADI WALI NIKAH???
Ayah saya sudah meninggal pada sekitar tahun 2001. Itu artinya saya didaulat untuk menjadi wali dalam pernikahan kakak perempuan saya, karena memang tidak ada lagi laki-laki dewasa dalam rumah kami. Ada sih keponakan saya si Jali, tapi dia masih tidur sama ibunya, ngga berani tidur sendirian apalagi pas mati lampu. Masa sih dia yang jadi wali?
So, begitulah. Itu untuk pertama kali saya bertemu calon kakak ipar. Orangnya bertampang cupu, dan keknya tampangnya lebih muda daripada saya. Berapa umurnya, saya ngga tahu. Nama kakak ipar saya itu namanya Rahman. Tapi saya ngga tau nama lengkapnya, rumahnya di mana, asli orang mana, pendidikan terakhirnya sarjana atau cuma tamatan SMA, hobinya apa, merek HPnya apa dan bisa dipake internetan apa kaga, terus dia sekarang kerja apa saya juga ngga tahu. Dan saya tidak mau berusaha untuk mencari tahu. Begitulah, biasanya saya memang sengaja membiarkan diri saya berada dalam ketidak tahuan. Di situlah letak kelemahan saya (atau kelebihan?). Nanti akan saya ceritakan lebih lanjut tentang kelemahan saya ini di entry berikutnya kalo inget. heheheheheh.
Eh, udah jam setengah dua. Cukup sekian aja yee....
Sampai jumpa.
0 komentar:
Posting Komentar