Selasa, 09 Februari 2010

Ulang tahun

Usia saya hari ini 27 tHUN

Selasa, 12 Januari 2010

Perubahan Shift

Setelah bertahun-tahun dapat shift malam (Lebay, padahal cuma sejak bulan Oktober), akhirnya saya bisa dapat shift pagi dari jam 8 sampai jam 4. Tahu kan, nyokap suka protes pas saya dapat shift jaga warnet tengah malam buta. Berhubung ada operator warnet baru, shift saya digeser jadi pagi. Ini untuk kemudahan bersama. Kalau operator baru dapat shift siang, dia pasti bakalan kelabakan. Kalau malam kan sepi, jadi ngga terlalu repot.

Sekian.

Selasa, 29 Desember 2009

Nostalgia Film Indonesia Jadul part 1 (RAMA SUPERMAN INDONESIA)

Gara-gara entry kemarin membahas tentang film BUNGA BANGSA, akibatnya saya jadi kepengen mengupas lagi-lagi film-film jadul yang pernah saya tonton waktu saya masih SD dulu. Hitung-hitung nostalgia gitu deh. Kali ini saya akan membahas sedikit tentang dua film kolosal yang dulu sempat jadi alasan saya bisa menghemat uang saku, karena pada jam istirahat saya bukannya jajan di kantin, tapi malah kabur ke rumah warga di sekitar sekolah saya, numpang nonton di rumah orang itu bareng teman-teman. Wuehehehe...

RAMA SUPERMAN INDONESIA









Sutradara : Frans Totok Ars
Produser : M. Endraatmadja dan Hasbullah Syahlani
Penulis : Agasyah Karim dan Khalid Kashogi

Pemain :
Boy Syahlani sebagai Andi
August Melasz sebagai Rama
Yenny Rahman sebagai Lia

Film ini diproduksi tahun 1974. Ceritanya tentang seorang penjual koran yang jujur dan baik hati bernama Andi. Suatu hari, Andi menolong seorang kakek yang sedang sakit. Layaknya cerita kepahlawanan pada umumnya, si Andi mendapat hadiah dari kakek itu, yaitu sebuah benda seperti kalung yang apabila dicium akan membuat Andi menjadi manusia super. Rada mirip sama Superman sih, sama-sama pake celana dalam di luar. Kostumnya juga rada mirip, hanya saja si Rama memakai topeng mirip kacamata (itu lho, kayak topeng si Robin temannya Batman). Yang berbeda hanya cara terbangnya. Si Rama ini kalo terbang tidak dalam posisi tengkurap seperti Superman Amrik, tapi dia terbang dalam posisi berdiri dengan kedua tangan terentang lurus ke depan. Mirip vampir China gitu deh. Wakakakakak!

Klik disini buat nonton di Youtube

Sebenarnya saya rada bingung juga sama film ini. Si Andi itu kan orangnya gendut, tapi setelah berubah jadi Rama kenapa malah jadi kurus, ya? T___T

Minggu, 27 Desember 2009

Film "BUNGA BANGSA" (1982)

BUNGA BANGSA (Flower of The Nation)


Produksi 1982, 108 menit, PT sanggar Film (Tirto Yuwono)
Std: Sophan Sophiaan
Skn: Putu Wijaya, Sophan Sophiaan
Crt: Putu Wijaya, Sophan Sophiaan
Ftg: Adrian Susanto
Art: Hendro Tangkilisan
Edt: Muryadi
Msk: Billy J.Budiardjo
Sra: Suparman Sidik
Pem: Ajeng Triani Sardi, Retno Maruti, Adi Kurdi, Jean Marc Diestombe, Sarah David, Asrul Zulmi, Etty Sumiati, Yatti Sutjipto, Susy Bolle.


SINOPSIS:
Tantini (Ajeng Triani Sardi), gadis cilik anak keluarga Sanca Bachtiar (Adi Kurdi) dan Sito (Retno Maruti), telah hilang dan dinyatakan meninggal oleh orangtuanya. Sementara Tantini yang kini telah berubah nama dengan Tinneke hidup di negeri Belanda bersama keluarga Arnold van Dyk (Jean Marc Diestombe). Pangkalnya, bocah itu diculik oleh seseorang, yang tiga tahun kemudian penculiknya tertangkap oleh aparat keamanan. Tetapi bocah manis itu telah resmi diadopsi sebagai anak keluarga Arnold. Segala macam cara dan usaha dilakukan oleh keluarga Sanca, untuk dapat berkumpul kembali dengan anaknya. Rupanya kasih sayang terhadap Tinneke telah menyulitkan semua pihak. Keluarga Arnold telah begitu mengasihi Tinneke, seperti anak mereka sendir. Akhirnya, setelah melibatkan berbagai instansi dan perorangan, usaha Sanca kemudian berhasil menyentuh lubuk hati Arnold van Dyk. Tantini kembali ke pelukan ayah dan ibu kandungnya

Mungkin kalian semua heran kenapa saya malah membahas film ini?

Well, begini ceritanya.

Dulu waktu saya masih SD (kelas berapa saya lupa) saya sempat nonton film "bunga Bangsa" di salah satu stasiun TV swasta. Cuma saya nonton pas bagian pertengahan doang. Maksudnya, ngga nonton mulai awal, dan ngga nonton sampai akhir. Belakangan saya malah menyesal karena film itu ternyata film bagus, karena melibatkan dua negara : Belanda dan Indonesia. Apalagi plot ceritanya juga tentang kejahatan lintas negara gitu deh, seorang anak Indonesia diculik dan dijual ke orang Belanda.

Film-nya film sedih. Makanya saya ngga nonton sampai selesai. Maklum, masih SD, mana ada sih anak SD doyan nonton film sedih? Wuehehehehe

Ternyata saat itu adalah untuk pertama sekaligus terakhir kalinya saya nonton film "Bunga Bangsa." Sampai bertahun-tahun kemudian, sampai sekarang, saya tidak pernah lagi melihat film itu diputar di stasiun TV swasta kita saat ini. Sumpah, saya nyesel banget kenapa waktu itu saya ngga nonton sampai kelar.

Padahal saya yakin itu merupakan salah satu film Indonesia yang paling bagus di tahun 80-an. Karakter utamanya, gadis kecil bernama Tinneke itu juga jago Bahasa Belanda. Lokasi syutingnya sebagian juga ngambil tempat di Belanda. Sampai sekarang, salah satu adegan paling saya ingat adalah ketika Tinneke dipertemukan dengan ortu kandungnya. Gadis itu berteriak dalam bahasa Belanda (saya lupa bahasanya seperti gimana, tapi terjemahannya seperti ini :

KALIAN MEMANGGILKU TINI? BUKAN! BUKAN! NAMAKU TINNEKE!

Ada juga adegan saat Tinneke curhat sama ortunya yang orang Belanda. Katanya, dia sering diejek teman-temannya di sekolah gara-gara warna kulitnya beda sama anak-anak lain (Tinneke bersekolah di Belanda), mereka berkulit pucat, tapi Tinneke berkulit pucat menjurus sawo matang. Tinneke bicara ke ortunya itu jelas aja pake bahasa Belanda. Asli keren. Sayangnya, cuma itu yang bisa saya ingat.

Siapapun yang membaca entry ini, saya mohon bantuannya dengan sangat agar saya bisa menonton lagi film ini sampai selesai dari awal sampai akhir. Please...

Jumat, 25 Desember 2009

Dagelan Guru dan Murid (cerita lucu)

Kelas yang tadi ribut-ribut tanpa guru, kini menjadi sunyi. Guru Bahasa Indonesia yang paling ditakuti dan disegani oleh semua murid telah masuk ke dalam kelas. Wajahnya garang seperti harimau kelaparan.

Murid-murid : "Selamat pagi, Bu Guru!"

Bu Guru (dengan suara melengking) : "Mengapa bilang selamat pagi saja? Kalau begitu siang, sore dan malam kalian mendoakan saya tidak selamat, ya?"

Murid-murid : "Selamat pagi, siang, sore, dan malam, Bu Guru....."

Bu Guru : "Kenapa panjang sekali? Tidak pernah orang mengucapkan selamat seperti itu! Katakan saja selamat sejahtera, bukankah lebih bagus didengar dan penuh makna? Lagipula ucapan ini meliputi semua masa dan keadaan."

Murid-murid : "Selamat sejahtera, Bu Guru!"

Bu Guru : "Sama-sama, duduk! Dengar baik-baik. Hari ini Bu Guru akan menguji kalian semua tentang lawanan kata atau antonim kata. Kalau Bu Guru sebutkan perkataannya, kalian semua harus cepat menjawabnya dengan lawan katanya, mengerti?"

Murid-murid: Mengerti Bu Guru...

Guru: Pandai!
Murid-murid: Bodoh!
Guru: Tinggi!
Murid-murid: Rendah!
Guru: Jauh!
Murid-murid: Dekat!
Guru: Berjaya!
Murid-murid: Menang!
Guru: Salah itu!
Murid-murid: Betul ini!
Guru (geram): Bodoh!
Murid-murid: Pandai!
Guru: Bukan!
Murid-murid: Ya!
Guru (mulai pusing): Oh Tuhan!
Murid-murid: Oh Hamba!
Guru: Dengar ini...
Murid-murid: Dengar itu...
Guru: Diam!!!!!
Murid-murid: Ribut!!!!!
Guru: Itu bukan pertanyaan, bodoh!!!
Murid-murid: Ini adalah jawaban, pandai!!!
Guru: Mati aku!
Murid-murid: Hidup kami!
Guru: Saya rotan baru tau rasa!!
Murid-murid: Kita akar lama tak tau rasa!!
Guru: Malas aku ngajar kalian!
Murid-murid: Rajin kami belajar bu guru...
Guru: Kalian gila semua!!!
Murid-murid: Kami waras sebagian!
Guru: Cukup! Cukup!
Murid-murid: Kurang! Kurang!
Guru: Sudah! Sudah!
Murid-murid : Belum! Belum!
Guru: Mengapa kamu semua bodoh sekali?
Murid-murid: Sebab saya seorang pandai!
Guru: Oh! Melawan, ya??!!
Murid-murid: Oh! Mengalah, tidak??!!
Guru: Kurang ajar!
Murid-murid: Cukup ajar!
Guru: Habis aku!
Murid-murid: Kekal kamu!
Guru (putus asa): O.K. Pelajaran sudah habis!
Murid-murid: K.O. Pelajaran belum mulai!
Guru: Sudah, bodoh!
Murid-murid: Belum, pandai!
Guru: Berdiri!
Murid-murid: Duduk!
Guru: Bego kalian ini!
Murid-murid: Cerdik kami itu!
Guru: Rusak!
Murid-murid: Baik!
Guru (stres): Kamu semua ditahan siang hari ini!!!
Murid-murid: Kami sebagian dilepaskan tengah malam itu!!
Guru (stres): 66666
Murid-murid: 99999
Guru (stres): !!!!!
Murid-murid: ?????

Rabu, 23 Desember 2009

Hari Ibu

Kenapa tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu? Kenapa tidak tanggal 21 April saja?

Sebelum mengetahui jawaban dari pertanyaan di atas, terlebih dahulu saya ingin menceritakan sedikit tentang ibu saya.

Well, sebenarnya saya sendiri kurang mengenal ibu saya, sebagaimana ibu saya sendiri juga kurang mengenal saya secara keseluruhan sebagai anak laki-laki. Kami berdua memang jarang ngobrol. Beliau lebih dekat dengan kakak-kakak perempuan saya. Biasanya kalau tiap sore, mereka suka kumpul-kumpul di ruang tamu, sementara saya sendirian nongkrong di depan TV tanpa ada yang menemani.

Kalaupun ibu saya suatu ketika mengajak saya ngobrol, paling-paling yang beliau katakan hanyalah kalimat-kalimat basi seperti : "Sudah makan, belum?" "Rambut panjang, begunting gin," "Nasi ikam di dalam tetudung," dan kalimat sejenis yang tidak terlalu penting. Rasanya belum pernah saya diajak ibu saya untuk turut serta ngegosipin tetangga. Ya ealah, saya anak laki-laki satu-satunya, pendiam, dan kaga suka gosip. Bagaimana mungkin saya gabung dan ngobrol sama ibu dan kakak saya di ruang tamu?

Jadi tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang ibu saya.

Beliau lahir kalo ga salah pada tanggal 19 Januari 1944 di Kotabaru, Kalimantan Selatan, dengan nama Gusti Nortjahaja (baca : Gusti Norcahaya). Anak keberapa dari berapa bersaudara, saya sendiri juga ga tahu. Selama ini saudara ibu saya yang saya kenal hanya Acil Ida (Acil itu bahasa Banjar yg artinya Tante), yang kata ibu saya adalah adik paling bungsu. Yaaah, saya kurang tahu akan hal ini, harap maklum.

Dahulu ibu saya bekerja sebagai seorang guru di Madrasah Tsanawiyah Pangeran Antasari Martapura. Beliau mengajar Biologi dan Fisika. Kadang-kadang saya juga sedikit kecipratan ilmu beliau, sehingga saya biasanya paling pinter dalam dua pelajaran itu. Ngga pinter-pinter amat sih, tapi pokoknya pinter lah!

Sekarang beliau sudah sangat tua. Kondisi fisik sudah tidak prima seperti dulu lagi. Kalau dahulu beliau bisa mengendarai motor, sekarang jalan kaki aja sudah ngos-ngosan. Suka ngga tahan kalo berdiri terlalu lama, ngga tahan juga kalo duduk terlalu lama. Kalo sholat, biasanya sholat duduk doang Bahkan untuk berdiri saja membutuhkan waktu hampir lima menit. Kadang-kadang beliau pipis atau boker di celana kalo sudah kebelet dan ngga bisa nahan lebih lama lagi. Dan berhubung saya kurang akrab sama beliau, yaudin, emang gue pikirin? Biarlah kakak perempuan saya yg ngurusin ibu. Hahahahaha...

Kembali membahas pertanyaan di awal entry : Kenapa tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu? Kenapa tidak tanggal 21 April saja (yang merupakan Hari Kartini)? Tulisan berikut ini saya kopipaste langsung dari Wikipedia Indonesia. Selamat membaca.

Hari Ibu adalah hari peringatan/ perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anaknya, maupun lingkungan sosialnya.
Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebas-tugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya.

Di Indonesia hari ini dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional.

Sementara di Amerika, dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong dalam Hari Ibu atau Mother’s Day (dalam bahasa Inggris) dirayakan pada hari Minggu di pekan ke dua bulan Mei. Di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Perempuan Internasional atau International Women's Day (dalam bahasa Inggris) diperingati setiap bulan 8 Maret.

Hari Ibu di Indonesia

Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Konggres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung yang kemudian dikenal sebagai Mandalabhakti Wanitatama di Jalan Adisucipto. Dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain.

Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara; pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan; pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa; perdagangan anak-anak dan kaum perempuan; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita; pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan jender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Peringatan 25 tahun Hari Ibu pada tahun 1953 dirayakan meriah di tak kurang dari 85 kota Indonesia, mulai dari Meulaboh sampai Ternate.

Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama. Di Solo, misalnya, 25 tahun Hari Ibu dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Pada waktu itu panitia Hari Ibu Solo juga mengadakan rapat umum yang mengeluarkan resolusi meminta pemerintah melakukan pengendalian harga, khususnya bahan-bahan makanan pokok. Pada tahun 1950-an, peringatan Hari Ibu mengambil bentuk pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung.

Satu momen penting bagi para wanita adalah untuk pertama kalinya wanita menjadi menteri adalah Maria Ulfah di tahun 1950. Sebelum kemerdekaan Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Tahun 1973 Kowani menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW). ICW berkedudukan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa-bangsa.

Kini, Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji ke-ibu-an para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, pesta kejutan bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari.

Mother's day

Peringatan Mother’s Day di sebagian negara Eropa dan Timur Tengah, yang mendapat pengaruh dari kebiasaan memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronus, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani kuno. Maka, di negara-negara tersebut, peringatan Mother’s Day jatuh pada bulan Maret.

Di Amerika Serikat dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong, peringatan Mother’s Day jatuh pada hari Minggu kedua bulan Mei karena pada tanggal itu pada tahun 1870 aktivis sosial Julia Ward Howe mencanangkan pentingnya perempuan bersatu melawan perang saudara.

(Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_ibu)

Well, tadi saya sudah bilang bahwa saya bukanlah jenis anak yang dekat dan akrab dengan ibunya. Jadi secara pribadi saya menganggap bahwa tanggal 22 Desember tidak ada bedanya dengan hari yang lain, tidak ada yang spesial, tidak ada yang saya berikan atau saya lakukan untuk ibu saya, dan hari-hari saya di rumah tetap berjalan seperti biasa (makan, tidur, nonton TV, tidak ada yang ngajak ngobrol). Lagipula, tanggal 22 Desember juga bukan tanggal merah, jadi rasanya sama aja dengan hari biasa, kan?

Sampai jumpa.



Selasa, 22 Desember 2009

Let Me Sleep 2

Malas nulis tanggal Hijriah. Wehehehe....

Hari ini saya lagi senang. Seharian saya tidur doang dari jam sembilanan sampai jam lima sore. Puaaaaas.....

Sudah itu aja.

Iye, saya juga tahu kalo ini entry sampah.

Sampai jumpa.